Ketika anda dirundung duka, ditimpa kebingungan, dan diliputi masalah
yang berat maka tersenyumlah!. Karena, itu semua Allah hadiahkan agar
hambanya mengetahui betapa nikmatnya kebahagiaan, ketenangan, dan
kelapangan yang sebenarnya. Karena takkan tahu betapa indahnya
ketenangan tanpa mengetahui kesempitan dan takkan tahu kebahagiaan tanpa
adanya kesedihan. Itulah hikmah agar kita tidak menyia-nyiakan segala
anugrah dan mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan Allah kepada
kita.
Ketika posisi kita sedang dalam kesusahan ekonomi dan merasakan
getirnya kemiskinan, maka tersenyumlah!. Semoga ini menjadikan hati kita
tenang dan jiwa kita rela. Karena bisa jadi kita lebih baik hidup dalam
posisi seperti ini agar kita terhindar dari keangkuhan karena kekayaan,
kesombongan yang diakibatkan harta melimpah ruah, dan sedikit harta
berarti sedikit penghisaban di akhirat.
Ketika kita sakit dan tergeletak tak berdaya karena begitu beratnya
penyakit, maka tersenyumlah!. Mudah-mudahan dengan tersenyum itu membuat
Allah ridha kepada kita dan kita ridha kepada-Nya. Percayalah dengan
adanya penyakit berati dosa kita sedang dihapus, aib-aib pada diri
sedang dikikis, dan hati kita sedang diobati.
Ketika kita dihina, dicaci, dan dimaki padahal kita adalah orang
baik-baik, maka tersenyumlah!. Janganlah balas mereka dengan hinaan pula
karena kita beruntung tidak seperti mereka yang bermulut penuh dosa.
Panjatkanlah segala puji kepada Allah karena Dia tidak menjadikan kita
sebagai pencaci tapi menjadikan kita yang memaafkan segala cacian.
Ketika kita sedang difitnah dan dicemarkan nama baik dengan hal yang
dusta, maka tersenyumlah!. Jangan takut pribadi kita jatuh atau martabat
kita runtuh, karena sesungguhnya mereka yang memfitnah itu sedang
menyebarkan nama kita kepada khalayak ramai secara besar-besaran,
intens, dan gratis. Jika kita adalah orang yang benar niscaya
pemberitaan secara cuma-cuma itu membuat diri semakin mulia dan nama
menjadi harum. Sungguh kayu Gaharu tidak akan tercium wanginya sampai
ada api yang membakarnya.
Ketika kita sedang dikucilkan oleh orang-orang akibat kesalahpaham
dan kekeliruan, maka tersenyumlah!. Semoga Allah menakdirkan seperti ini
agar kita tidak sering berkumpul dengan orang-orang jahil, berdiskusi
dengan mereka yang bodoh, dan bergaul dengan para pemalas. Ini berati
Allah hendak menjauhkan kita dari kemaksiatan dan ini saatnya untuk
menyendiri, merenungi dosa, memperbanyak dzikir, berteman dengan buku,
menciptakan karya, dan menimbun pahala.
Ketika salah satu keluarga, kerabat, atau teman kita meninggal dan
kita berada dalam kesedihan yang amat berat, maka tersenyumlah!.
Janganlah keratapinya, sebab Allah memanggilnya karena cintanya pada si
mayit dan percayah dia telah keluar dari alam yang fana kepada alam yang
kekal dan dia telah meninggalkan dunia yang hina ini dan menuju tempat
yang jauh lebih baik dan luhur, yaitu di sisi Allah SWT.
Ketika kita gagal dalam mencapai impian dan belum berhasil menggapai
cita-cita, maka tersenyumlah!. Mungkin Allah ingin melihat usaha yang
jauh lebih keras dari sebelumnya. Allah ingin menempa kita dengan
kegagalan agar kita menjadi pribadi yang sabar dan teguh. Allah ingin
kita terus belajar, berfikir, berjuang tanpa henti, dan bekerja tanpa
lelah sehingga ketika keberhasilan sudah diraih kita merasakan
kenikmatan yang jauh luar biasa.
Ketika kita melihat diri ini penuh akan kekurangan, keterbatasan, dan
cela, maka tersenyumlah!. Karena Allah yang Maha Adil juga
meng-karuniakan kita berbagai macam kelebihan. Sykurilah nikmat Allah
itu dengan mem-potensikan kelebihan dan mempertajam ke-ahlian agar kita
bersinar di antara orang-orang. Abaikan kekurangan dan acuhkan
keterbatasan karena setiap orang memilikinya dan Allah yang menciptakan
kekurangan tersebut sudah menyiapkan pendamping yang siap menerima kita
apa adanya.
Ketika kita sedang menikmati kesuksesan lalu mendadak keadaan berubah
drastis sehingga kita berada dalam kejatuhan dan kesusahan, maka
tersenyumlah!. Mungkin saja jika kita terus berada dalam kesenangan
tersebut hati kita akan menjadi keras, iman kita turun, dan lupa akan
ibadah. Dengan begini seorang hamba akan kembali pada Tuhannya dengan
penuh ketundukan. Percayalah, dengan musibah, Allah hendak menguji
hamba-Nya, mendidiknya agar tegar, dan meniggikan derajatnya.
Ketika kita sedang merasakan penderitaan hidup yang begitu hebat dan
berat yang seakan tidak ada harapan lagi atasnya, maka tersenyumlah!.
Yakinlah itu sebagian dari Sunnatullah kehidupan. Tenangkanlah diri,
kuatkanlah hati, dan optimislah bahwa harapan itu ada, karena kepekatan
malam yang memuncak itu tanda fajar akan merekah, tali yang meretas kuat
tidak lama lagi akan putus, dan itu berarti puncak penderitaan yang
dialami merupakan sinyal akan tibanya kebahagiaan hidup.
Tersenyumlah kawan karena itu sedekah yang paling ringan, obat
penenang hati, penawar kegundahan jiwa, dan penyemangat bagi raga.
Reblogged from my childhood friend: http://jegersan.wordpress.com/2013/01/26/tersenyumlah/
Jumat, 10 Mei 2013
Sabtu, 16 Maret 2013
Yang Hilang, Yang Berubah
Me: Malam skripsiku yang manis... malam ini aku rehat dulu ya. Masa aku harus merawat kamu terus?
Aku kan juga butuh refreshing...
Skripsi: Tapi jangan lama-lama... masa aku dianggurin? Nanti ga mencapai target lho?
Inget... judul yang kamu ambil gak gampang...
Me: Iya... iya... don't fret deh... kayak umi aja yang khawatir tadi siang.
Skripsi: Khawatir kenapa?
Me: Itu tadi siang aku belum makan apa-apa sebelum berangkat, terus dibilang "makan dulu,
ntar jatuh aja."
Skripsi: Perhatian ya?
Me: Iya. Jadi inget masa-masa sd waktu masih disuapin umi. Seneng jadinya, berasa kayak anak kecil
klo digituin.
klo digituin.
Skripsi: Yaudah... makan jangan suka telat and buruan nge-blog, nanti kecapean lagi. ^^~
***
Ngga tau mesti mulai darimana nulisnya, tapi pelan-pelan aku akan menapaki kembali tiap liku yang terjal dan penuh bebatuan...
Kenapa sih kita berubah? Maksud aku... bukan perubahan untuk menjadi lebih baik ya. Seperti halnya lebih rajin belajar, merubah habit, merubah pola pikir, dsb. Disini aku melihat perubahan orang orang di sekitarku. Sebenarnya hal ini sudah aku rasakan lama, tepatnya satu setengah semester yang lalu. Perlahan... mereka mulai menjauh ketika mendapatkan orang-orang yang lebih, mungkin bisa dibilang "socialite". I don't know what term to define the people like them. Ternyata hal ini bukan hanya aku saja yang merasakan, tapi Kei juga... bahkan 3 diantara mereka juga merasakan hal yang sama. Dan quote di bawah ini yang aku jabarkan pada Kei...
Disini aku melihat banyak sekali perubahan. Aku kerap kali bertanya pada ruang hampa, gelas-gelas yang berdenting, dinding langit kamar. Bahkan tak jarang pula aku merenung, mengunyah, menelannya bulat-bulat sedemikian rupa. Kemana sebenarnya canda gurau yang sering kita lewati bersama? Kemana rasa kepekaan itu semua? Kemana bulir keringat yang pernah kita dapati bersama di tengah teriknya mentari kala mencari pekerjaan? Berkeliling... dari pintu ke pintu. Kemana semua pengorbanan, gelak tawa beserta urai tangis... rangkulan hangat. Nasihat ringan... namun berkesan dalam. Perhatian-perhatian kecil... Kemana itu semua? Rasanya tertelan buih-buih awan gelap yang menggunung. Kini, semua seolah tak pernah ada. Hilang di telan gelapnya malam. Aku berfikir... hingga Allah menjawab semua pertanyaanku. Cuma Allah, hanya Allah, segalanya ku kembalikan pada Allah. Entah mengapa aku semakin belajar dan mencoba bijak dalam menghadapi sesuatu. Meskipun sungguh sulit kurasa. Terasa ada letupan-letupan hangat yang mencekat tenggorokan. Dada terasa lebih sesak, seperti kehabisan oksigen. Sekarang, aku lebih banyak belajar akan arti kesabaran dari setiap duri yang menancap di tumit, setiap kali aku menapak. Hal ini juga tidak terlepas dari orang-orang di sekitarku. Terimakasih, terimakasih banyak. Meskipun aku tak bisa langsung mengucapkannya pada kalian. Ini yang aku simpulkan,
"Allah sedang mendidikku. Allah sedang menunjukkan padaku arti sebuah teman. Terlebih lagi, Allah melatih kesabaran padaku. Tak henti-hentinya ia mengujiku. Karena dia tahu, aku bisa melewati semuanya."
Aku bilang pada Kei, "Jujur aku juga ngerasain hal yang sama lho, dengan apa yang kamu bilang semalam."
"Allah sedang mendidikku. Allah sedang menunjukkan padaku arti sebuah teman. Terlebih lagi, Allah melatih kesabaran padaku. Tak henti-hentinya ia mengujiku. Karena dia tahu, aku bisa melewati semuanya."
Aku bilang pada Kei, "Jujur aku juga ngerasain hal yang sama lho, dengan apa yang kamu bilang semalam."
Kei jawab, "Iya... tapi jujur aku gak masalah sama kamu, Sedangkan yang aku rasain nih dari yang aku lihat cuma kamu, I, D, U, U, yang nggak berubah. Sedangkan yang lain berubah semua. Kita berempat agak kecewa, gimana bisa kita begitu dekat kok jadi ada jarak cuma karena beda kels, padahl cuma beda kelas, udah gitu sebelahan pula. Masa sih cuma karena beda kelas jadi berbeda juga kayak gak penting kita ini."
Lanjut Kei,
"Kalau dijejerin nih kalian, kelihatan banget, dit... Siapayang tetap down to earth dan siapa yang meninggikan diri.
Aku jadi mikir gini, apa sih yang salah dari kita? Apa karena kita bukan orang kaya yah? Dan cupu-cupu, ga keren, dan ga gaul... Itu yang bener-bener kita berempat pikir..."
"Kalau dijejerin nih kalian, kelihatan banget, dit... Siapayang tetap down to earth dan siapa yang meninggikan diri.
Aku jadi mikir gini, apa sih yang salah dari kita? Apa karena kita bukan orang kaya yah? Dan cupu-cupu, ga keren, dan ga gaul... Itu yang bener-bener kita berempat pikir..."
Aku hanya bisa menjawab, "Kalian ga salah kok... Mungkin keadaan yang salah... Kita hanya harus menerima perubahan..."
Oke, sebenarnya kata-kata "keadaan yang salah" ini... It wasn't originally my utterance. I remember there is someone who said this, while I ask: Aku salah ya?
Oke, sebenarnya kata-kata "keadaan yang salah" ini... It wasn't originally my utterance. I remember there is someone who said this, while I ask: Aku salah ya?
Thanks for give me such a nice words to me, though it seems unwise blaming the "condition". However, at least it is better than blaming or accusing towards someone. Indeed, scapegoating upon people is not wise way. We are mature enough, aren't we?
Tunggu sebentar, cupu? Kei tadi bilang 4 sekawanannya cupu?
Ada benarnya juga sih kalau dipikir 4 sekawana itu, tapi bukan hanya mereka saja. Hei, tapi orang-orang cupu itu cukup menempati posisi teratas di mataku. Jujur, buatku 4 sekawan itu cukup sederhana, riang, dan bersahaja.
Aku juga cukup cupu kok. Lebih sering berkutat pada buku-buku, bikin makalah, menganalisa objek masalah yang diberikan dosen, berkutat dengan teori psikoanalisa, cerita fiksi, berimajinasi, merajut kata, dsb. Daripada menghabiskan waktu bersama orang-orang yang tidak tepat. Hanya kongkow-kongkow, hangout, showing pride. Nambah duit nggak, habisin duit iya! xDD. Lebih baik mengisi waktu yang lebih berguna. Seperti yang Om Tere bilang, ngaji atau menghabiskan waktu bersama keluarga misalnya.
Aku mendefinisikan seseorang itu ditemani karena beberapa faktor:
1. Harta. Yah, biar dibilang socialite. Berkumpulnya sama orang yang tajir, mumpung-mumpung kalau dibayarin. Hangout di tempat-tempat bergengsi sambil aktifin gps, knowing location.
2. Ilmu. Nah, yang ini kasian sebenarnya. Ada orang yang berilmu yang bisa bergaul dengan bebas. Tapi kalau gak pintar bergaul, mereka cuma dibutuhin saat pelajaran aja. Seperti halnya, punya buku ini gak? Tahu buku ini gak? Punya teori ini gak? Kirimin ini dong... Tolong bantuin tugas ini dong...
3. Tampang. Nah... yang ini mungkin biar eksistensinya diketahui dikalangan banyak. Oh, si A berteman dengan si B yang cantik/tampan itu lho.
Dan... tadi siang, orang itu pergi bersama teman-teman socialite nya, left me alone. Aku sudah tidak kaget lagi. Sudah cukup terbiasa tepatnya. Padahal sehari sebelumnya, dia meminta untuk dikirimkan contoh systematical presentation lewat email. Akan tetapi hari ini dia dengan mudahnya membiarkanku sendiri. Hidup itu kejam, Andita... Dita, jangan berubah buat orang-orang di sekitar ya. Kalau kamu bisa bantu, bantu ya semampunya. You don't like hold a grudge, right? Apabila orang berbuat salah padamu, maka berlapang hati lah seperti nabi Muhammad. Karena kalau kamu berubah, orang disekitarmu pasti akan kecewa. Tetap jadi Dita yang begini ya :)
"Yang pergi... biar saja pergi
Jangan ditahan, jangan ditangisi...
Nanti kita juga akan mendapat yang lebih dari mereka"
There is no friend as loyal as a book - Ernest Hemingway
Rabu, 06 Maret 2013
Catatan Kecil Perahu Kertas
Hari ini aku kembali di sudut ruangan. Menepi sendiri.
Hari ini baru baca 30 halaman novel yang judulnya "Fatima's Good Fortune" dan menyelesaikan dua tontonan film yang berbeda. Ice Age 4 "Continental Drift" & Perahu Kertas 2.
Ice Age seru sih, tapi kurang greget pas di ending, mungkin karena terlalu singkat. Ceritanya ringan... pesan moralnya juga dapet banget kok! ^^
Kalau Perahu Kertas ini... emang udah di niatin banget nontonnya. Hahaa.
Guess, what? My cheek flooding with the tears. xDD
Nyesel sih kenapa nggak namatin novelnya. Padahal punya PDF nya. Untuk orang seperti aku yang punya slogan "I Pledge to Read Printed Book" (mungkin ini sedikit lebay. xD) yah susah untuk menamatkan sebuah PDF. Ditambah lagi tebalnya halaman novel Perahu Kertas yang kalau dibaca lewat notebook, kepala akan terasa pening dan leher terasa pegal-pegal. Dan aku yakin banget novelnya pasti ribuan kali lebih bagus daripada filmnya.
Dan inilah catatan kecilku untuk film ini. Okeh, posting ini sempet tertunda selama beberapa minggu. Tapi masih tersimpan dalam draft. Bukan malas untuk menyelesaikan tapi sepertinya jenuh akan rutinitas yang jauh lebih prioritas :))
Perasaan itu datang dengan sendirinya di saat-saat meskipun hati belum siap menerimanya.
Ia datang begitu saja, berlabuh dalam riak-riak kecil memenuhi ruang hati.
Untuk dua insan yang memendam perasaan satu sama lain. Akan tetapi sungguh sulit untuk mengungkapnkannya. Hanya lewat tulisan dongeng-dongeng dari negeri Neptunus dan juga lukisan yang terinspirasi dari dongeng tersebut. Dua hal tersebut lah yang mengantarkan mereka untuk menginspirasi satu sama lain. Meskipun masing-masing dari mereka berdua telah memiliki pasangan.
Perasaan tersebut tak bisa dibohongi... dan jangan pernah membohongi perasaan sendiri
Sekuat apapun kamu memendamnya, sekuat apapun kamu membunuh perasaan itu, semakin kau tikam dengan tombak yang menghunus tajam atau benda apapun itu. Ia tetap muncul ke permukaan, mengambang di permukaan. Menyemai di relung hati. Seperti pupuk yang menyuburkan tanah serta menghiasi taman dengan bunga-bunga indahnya. Seperti imun yang menjaga kekebalan tubuh. Terjaga di dalam ruang tersempit nan bersih bernama "hati".
Kugy talks to Karel (her brother): Aku orang paling jahat sedunia, kak... Ada orang sebaik Remy, sesempurna Remy yang sayang banget sama aku... Tapi terus aku nggak bisa...
Kugy: Kamu tau, aku nggak bisa... aku nggak bisa... Apa perlu sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi aku sakit kayak gini setiap aku inget kamu... Aku nggak mau... Aku nggak bisa...
Keenan: Aku yakin kamu bisa... Aku yakin... Aku yakin kita bisa...
Di saat seperti ini, di saat cinta yang mencoba lari dari kenyataan dan tak mampu keluar dari sekat-sekat yang sudah terbentuk. Entah itu tak ingin menyakiti orang lain, atau mungkin juga mencoba lari dari hakikat kenyataan yang rumit untuk dihadaapi. Semuanya merupakan pilihan. Mengambilnya atau menyerahkannya pada cinta yang sesungguhnya. Bukankah cinta yang sesungguhnya itu justru "melepaskan"?
Terkadang hati kita itu terlalu sibuk menerka, berasumsi apakah dia menyukai kita atau tidak.
Apakah ada orang lain yang terluka karena kita, karena perasaan kita? Atau bahkan, kita belum tentu yakin apakah ini cinta atau hanya perasaan semu yang datang karena terbiasa, menyemai dalam relung jiwa. Kita terlalu lama berdiam diri, terpenjara dalam ruang praduga yang belum tentu benar adanya. Hati sibuk terusik, membisik dalam kebisuan yang mendalam. Sehingga muncul kesimpulan-kesimpulan tak berasas, tak berdasar yang mencuat ke permukaan. Hati memang selalu bicara, bahkan berteriak dalam rentetan kalimat yang panjang. Tapi itu semua hanya bersemayam dan tersembunyi dalam hati. Tak mampu terucap lewat torehan kata, hanya mampu dibendung dalam gundukan yang kian menggunung. Karena terlalu takut, karena acap kali takut akan kata yang tak konsisten dengan perbuatan. Hati itu sifatnya sensitif, rapuh, mudah tersinggung, mudah terjatuh dan terjerembab. Selain itu, hati kerap kali mudah berpindah, bertaut ke hati yang lain. Oleh sebab itu aku berfikir hati itu tidak persistent. Tidak stagnant.
Tetapi dari semua hal itu, yakinlah cinta akan berlabuh ke dermaganya sendiri. Hati selalu tahu kemana harus mendarat atau beranjak pergi. Melepas sauhnya dan mendaratkannya di dermaga pulau yang belum berpenghuni. Begitu mendarat, akan terdapat jejak kaki kecil yang terbentuk dari kaki-kaki yang melangkah, riuh rendah deburan ombak, semilir angin yang mendesau parau.
Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu kemana harus berlabuh.
“Dear Neptunus,
Aku mencintainya.
Didepannya aku menjadi
diriku sendiri.
Seperti airmu
yang selalu membawa semua
pesanku. Dia pun begitu,
membuatku hanyut oleh
sorot matanya.
Membuatku lupa, oleh
kesederhanaan suaranya.
Sampai aku tak bisa katakan
apa-apa padanya. Bahkan
untuk sekedar bilang…
rindu, atau butuh
banyak yang ga ngerti, lalu
terluka dan saling
menyalahkan. karena itu, aku
takut bicara tentang hati,
maka aku tuliskan saja lalu
kusimpan dan mungkin
kukirimkan ke… entah
kemana” Kugy - Perahu Kertas
Sabtu, 16 Februari 2013
*Urusan perasaan, perasaan dan perasaan by Tere Liye
Saya
akhirnya menulis tentang ini, sebenarnya akan lebih baik jika kalian
berproses menemukan pemahaman ini, proses yg kelok-kelok, terjaga, penuh
kehormatan, selamat tiba di ujungnya. Itu akan lebih spesial, membekas,
lantas mengenang semuanya sambil tertawa, ah, dulu ternyata semua itu
lucu ya.
Tapi baiklah, karena page sy ini persentase anggota
remaja hingga usia 22-nya tinggi sekali, dan jika sy tdk hati2, malah
bisa salah paham, ada yg seolah2 mendapatkan pembenaran, maka akan sy
rangkum beberapa poin penting urusan perasaan menurut versi tere liye
(yg akan kalian jumpai paralel konsepnya dgn di novel, buku2).
1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik
hati itu adalah milik Allah. Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada
ulama dari mazhab manapun yg melarang jatuh cinta lawan jenis,
mengharamkannya. Apalagi, duhai, seperti terjatuh, kita tdk pernah tahu
kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba2 perasaan itu sudah mekar tak
berbilang.
2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what? Nah,
ini bagian yg menariknya. Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so
what? Kalian mau dekat2 dgn seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu
dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak
melebar, apakah konstipasinya sudah hilang, sudah bisa ke belakang?
Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, lantas kemudiannya
ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?
3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus
dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2
tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini,
karena kalian sudah tdk se-zona waktu lg dgn tulisan ini). Itu benar,
memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak
enak. Itu benar, ada keinginan utk tahu apakah seseorang itu balik
menyukai, keinginan utk bilang, cemas nanti dia digaet orang. Tapi kalau
hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa
lagi saat dipisahkan dr hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan
melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead. Sy
rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan
mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang
bisa punya pegangan, selamat dr merusak dirinya sendiri. Sy tdk akan
menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yg pacaran,
kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, sy pakai logika kalian
sj.
4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong? Ya
silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati
adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pd pujangga kelas dunia,
hingga pujangga amatiran narsis tere liye, semua bersepakat, cinta
sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang
berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. Jadi? Kalau kalian belum
jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending
ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah
tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di
salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling
tdk ada aksesnya. Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti
nggak dapat, gimana dong? Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran.
Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dgn terus memperbaiki diri. Nggak
paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri. Ya itulah, dalam
banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya,
banyak orang yg mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai.
Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan.
Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.
5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa
lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran? Nah itu
dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu
memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana
sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan
binasa. Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2
pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih
menggunakan 'pacaran' sbg sumber energi, mengingat sifatnya yg temporer
sekali. Mending sy milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada
milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya.
6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong?
Kongkretnya apa yg harus sy lakukan? jawabannya mudah: Tidak ada yg
perlu dilakukan. jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita
normal. lantas? Biarkan saja. Sibukkan diri sendiri dgn hal2 positif,
isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan
banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran
seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah. Pacaran itu
seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment.
Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan
rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game
over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak,
adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dgn terus
belajar, produktif, dsbgnya.
7. Lantas bagaimana sy melewati
masa2 galau ini? Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh
kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian. Boleh galau
menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang
tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan. Kalian
pasti sebal kan lihat teman sekelas yg tiba2 datang ke sebuah pesta
ultah (padahal dia tidak diundang), sudah tdk diundang, makannya paling
banyak, teriakannya paling kencang, paling gaya, norak, tidak tahu malu.
Nah, ada loh--bahkan banyak-- orang2 yg tdk sadar kalau dia sebenarnya
juga norak dan tidak tahu malu dalam urusan perasaan. Ya, kita sih
kadang tdk merasa kalau sudah genit, ganjen, lebay. Sy tahu, istilah
menjaga kehormatan perasaan ini boleh jd susah dipahami, tapi itu nyata,
orang2 yg bisa menjaga perasaannya, maka se galau apapun dia,
sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan
untuk tiba di ujungnya dgn selamat akan lebih besar. Jangan coba2
berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan
tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian.
8.
Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap. Jika sudah
yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan
libatkan orang tua. Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yg
menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yg pacaran
malah langgeng? Itu benar. Sama benarnya dgn banyak orang2 yg mabuk2an,
ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an,
malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar
peraturan, langsung ada petir menyambar. Menikah, membina keluarga,
langgeng atau tdk, bahagia atau tidak, boleh jadi tdk ada korelasinya
dgn pacaran atau tidak. Kita mungkin tdk pernah tahu misteri ini, tapi
dengan menjalani prosesnya dgn baik, mengakhirinya dgn baik, semoga fase
berikutnya berjalan dgn baik.
Sy konsen sekali masalah
pacaran ini, karena sy tdk ingin kalian menghabiskan masa2 penting
kalian utk urusan perasaan yg sebenarnya di usia kalian tdk penting2
amat. Dan sy harus bilang, orang2 yg paham, mengerti benar bahwa pacaran
adalah pintu gerbang pergaulan bebas. Itu mengerikan. Masa' kalian mau
dekat2 dengan pintu yg ada tandanya 'pergaulan bebas'. Saya bisa menjaga
diri kok, tenang saja. Well, rasa2nya tidak ada orang di muka bumi ini,
di zaman sekarang, yg bisa bilang dia sempurna bisa menjaga dirinya.
Kalau bisa, maka setan akan gigit jari.
Sy membuat beberapa
novel tentang perasaan, semoga itu bisa menjadi salah-satu alternatif
kalian memahami beberapa poin di atas, hidup ini memiliki batasan2 yg
tdk bisa dilanggar, bahkan sekuat apapun cinta tsb. Selalu ambil sisi
positif dlm cerita2 tsb, lihat dr sudut pandang berbeda, maka boleh jd
kalian akan menemukan pemahaman baru yg baik. Bukan sebaliknya,
mengambil yg bisa memberikan argumen buat kalian--karena namanya novel,
tentu sj sy harus memasukkan tokoh2 buruk, jahat. Sy juga menumpahkan
banyak postingan soal ini, konsen saya.
Sy benar2 tdk bisa
melakukan hal yg lebih kongkret dalam urusan ini, selain dgn tulisan2.
Tapi itu hanya tulisan2. Itulah kenapa sy sangat menghormati guru2,
orang2 dewasa, orang tua di sekitar remaja yg lebih kongkret, secara
terus menerus menanamkan pemahaman itu ke remaja2 mereka. Dan di atas
segalanya, yg akan membuat itu berhasil atau tidak, adalah kalian
sendiri.
Mari kita janjian, yuks, hari ini, 13 September
2012, maka dua puluh tahun lagi, 2032, kalau umur kita panjang, dan
kalian masih ingat postingan ini, kenanglah kembali masa remaja, masa
usia 20-an something kalian. Rasa2nya sy bisa menebak, kalian akan
nyengir mengingatnya. Boleh, nanti tiba2 mengirimkan email ke saya, Bang
tere, sy masih ingat postingan 20 tahun lalu itu--asumsi sy masih ber
narsis ria di mana2. Dan Bang tere ternyata salah. Boleh. Atau kalau
sebaliknya, tentu saja boleh, kirim email, bilang, ternyata Bang tere
benar.
http://www.facebook.com/darwistereliye/posts/505646082819298
Kamis, 14 Februari 2013
4 Macam Tipe Manusia
Tipe Sanguin
Tipe Sanguin adalah tipe yang paling terbuka diantara semua tipe perangai. Bahkan tipe ini dapat disebut super terbuka. Orang Sanguin adalah orang yang suka berbicara mudah menyesuaikan diri ramah hangat dan penuh humor dan responsive. Tipe Sanguin tidak tahan melihat orang asing didepan mereka tanpa memberi tanggapan kepadanya. Orang Sanguin adalah orang yang suka bergaul dan spontan. Mereka jarang kwatir akan masa depan dan masa lalu, mereka menikmati lebih banyak kegembiraan dari hari-hari yang dilaluinya dibandingkan dengan tipe-tipe lainnya. Orang Sanguin biasanya bukan pemikir berat , mereka menafsirkan kejadian –kejadian yang ada dengan cepat. Kadang-kadang mereka mendapat kesulitan karena jarang mengantisipasi dari pilihan itu atau tindakan mereka. Perasaan mereka mempunyai peranan yang sangat dominan didalam segala sesuatu, sehingga mereka cenderung membuat keputusan-keputusan yang bersifat emosional. Belajar dari pengalaman, keputusan-keputusan yang bersifat emosional hampir selalu merupakan keputusan-keputusan yang buruk.
Sanguin adalah orang yang gembira, yang senang hatinya, mudah untuk membuat orang tertawa, dan bisa memberi semangat pada orang lain. Tapi kelemahannya adalah dia cenderung impulsive, yaitu orang yang bertindak sesuai emosi atau keinginannya.
Tipe Kolerik
Tipe kolerik adalah juga tipe terbuka tetapi biasanya tingkat keterbukaannya lebih rendah daripada tipe Sanguin yang super terbuka. Orang Kolerik adalah juga orang yang aktif, semangat pekerja keras, ambisius, motivator bagi orang lain. Karena sifatnya yang berkemauan keras mandiri dan berpendidikan keras, orang kolerik cenderung keras kepala. Kompromi merupakan hal yang sangat sulit bagi mereka kecuali kompromi itu bermanfaat bagi tujuan yang mereka miliki. Mereka mempunyai tujuan untuk segala sesuatu dari kesehatan jasmani sampai tingkah laku anak. Mereka adalah tipe yang suka mengambil alih , yang suka memerintah orang-orang lain disekeliling mereka, tidak peduli apakah ornag itu menyukainya atau tidak. Orang Kolerik tidak pernah untuk mencoba untuk tidak menguasai suatu situasi dan mereka hidup penuh dengan pertentangan. Bagian dari sifat dasar mereka yang belum berkembang adalah emosi mereka. Mendapatkan persetujuan dari mereka hampir merupakan hal yang tidak mungkin. Mencapai tujuan mereka adalah ambisi bagi orang Kolerik, dan beberapa orang Kolerik mendapatkan reputasi mereka dengan memperalat orang lain.
Seseorang yang kolerik adalah seseorang yang dikatakan berorientasi pada pekerjaan dan tugas, dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan setia dan akan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya. Kelemahan orang yang berciri kolerik adalah kurangnya kemampuan untuk bisa merasakan perasaan orang lain (empati), belas kasihannya terhadap penderitaan orang lain juga agak minim, karena perasaannya kurang bermain.
Tipe Melankolik
Tipe yang paling berbakat dari semua tipe adalah tipe Melankolik sekalipun mereka tipe paling akhir yang menghargai bakat mereka sendiri. Tipe Melankolik mempunyai sifat dasar yang tertutup. Mereka sering mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi dan bersifat estetis yang mendalam sehingga mereka lebih menghargai seni dibandingkan dengan perangai yang lainnya. Tipe Melankolik cenderung suka murung dan mudah putus asa. Orang Melankolik dilahirkan sebagai orang pefeksionis, sering meremehkan diri mereka sendiri untuk tidak tidak melakukan dengan lebih baik walaupun pada kenyataannya produktivitas mereka lebih daripada kebanyakan perangai lainnya. Mereka adalah orang yang mau mengorbankan diri sendiri, serius, dan takut akan kegagalan. Mereka mempunyai sifat dasar yang teliti, hidup dengan tantangan atau visi untuk menginvestasikan hidup mereka, tetapi jarang dapat menghasilkan sendiri.
Tipe melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus, yang paling sempurna dan dia memang adalah seseorang yang mengerti estetika keindahan hidup ini. Perasaannya sangat kuat, sangat sensitif maka kita bisa menyimpulkan bahwa cukup banyak seniman yang memang berdarah melankolik. Kelemahan orang melankolik, ia mudah sekali dikuasai oleh perasaan dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan murung.
Tipe Plegmatiksumber:
Tipe Plegmatik merupakan orang yang tertutup yang sangat diam, tidak menuntut kalem dan lambat. Mereka tidak pernah menjadi gelisah membuat malu diri mereka sendiri dengan meminta maaf untuk segala sesuatu yang telah mereka katakana. Mereka jarang mengeluarkan ide-ide atau perasaan jika mereka tidak yakin mereka tidak akan melukai atau menyakiti orang lain. Orang plegmatik merupakan orang yang sangat baik dengan sifat yang bahagia dan menyenangkan. Banyak yang dari mereka sangat lucu karena mereka mempunyai daya humor. Mereka dilahirkan dengan bakat diplomat dan pembawa damai, mereka dicintai oleh anak-anak. Orang-orang Plegmatik merupakan teman yang menyenangkan dan tidak menakutkan, dua dari kelemahan mereka yang utama adalah rasa takut dan egois, walaupun mereka menunjukkan sikap ini dengan sangat diplomatis sehingga bahkan beberapa teman baik mereka tidak mengenal mereka.
Tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang, dari luar cenderung tidak beremosi, tidak menampakkan perasaan sedih atau senang. Naik turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini memang cenderung bisa menguasai dirinya dengan cukup baik, ia intorspektif sekali, memikirkan ke dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kelemahan orang plegmatik adalah ia cenderung mau ambil mudahnya, tidak mau susah, sehingga suka mengambil jalan pintas yang paling mudah dan gampang.
1.http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf
2. http://www.gobatak.com/artikel_detail.php?itemid=h_1141702427
Rabu, 13 Februari 2013
Kepompong Kecil Milik Bunda
Sebut
saja namanya Aisha, gadis kecil yg masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, sedang
meyeruput es yg baru ia beli di kantin. Dengan jilbab yg mencong ke kiri dan
sepatu hitamnya, ia menyusuri arah jalan
pulang. Aisha sedang menggerutu kesal
"Huh,
minta tolong... dia saja suka pilih-pilih teman, pun saat aku minta tolong saat
itu dia tidak mau membantu. Bahkan berteman denganku saja ia tak mau…"
gerutunya kesal dan cemberut sambil menendang-nendang bebatuan dihadapannya.
Angin
siang itu begitu kencang, mengibaskan jilbab yg dikenakannya. Makin mencong
saja jilbab itu. dan makin jeleklah raut wajahnya. Hatinya berkecamuk
menentukan pilihan yang sulit.
"Bantu… nggak-bantu-nggak… Haduh tapi
kata bunda klo kita menolong orang, hidup kita akan selalu dimudahkan
Allah".
Rasa
emosi yang diperdaya dan dibisiki oleh setan membuat ia tanpa sadar lupa
membaca doa. Memang terkadang hal kecil yg berarti besar sangat mudah dilupakan
seseorang. Begitu sesampainya di rumah, bunda mendapati buah cintanya yang pulang
dgn raut wajah kusut dan ditekuk. Lalu bunda menyapanya dgn hangat.
"Eh…
Humaira, sudah pulang." Begitulah sapaan akrab bunda padanya. Panggilan
itu berarti (yang pipinya kemerah-merahan). Nama ini merupakan panggilan Nabi
Muhammad SAW kepada istrinya, Aisyah R.A.
"Kok
pulang kesal begitu. Ada apa tadi di sekolah?" tanya bunda sambil memegang
lengan Aisha yg menyalaminya. Dengan lembut bunda mengusap ubun-ubun Aisha,
seraya mengangkat dagunya yg tertekuk. Seketika ada rasa hangat dan nyaman
berdesir di hati Aisha.
"Nggak,
ga ada apa-apa kok bun.." bohong Aisha pada bunda.
"Yakin...?
Aisha ciyus, miapah?" goda bunda pada gadis kecilnya.
"Ah,bunda...
kayak anak alay". ujar Aisha, merajuk manja di dekapan bunda yg sedang
memangkunya.
"Bunda...
aisha mau tanya..." tanya aisha ragu.
"Emm.
Bunda ga mau jawab". goda bunda
lagi sambil tersenyum nakal ke arah putrinya.
"Ahh...
bunda... jail…" cubitan kecil Aisha mendarat di hidung bundanya sehingga
menimbulkan bercak merah di hidung putihnya.
"Bunda..
kalau ada yang..." pertanyaan itu menggantung di sudut bibir Aisha. Ketukan
tiga kali di depan rumahnya membuatnya tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Bunda
menurunkan Aisha dari pangkuannya seraya berkata "Sebentar ya
sayang..."
"Ishh,
siapa sih? Ganggu aku sama bunda aja!" ketukan pintu itu membuat Aisha
geram dan mengepalkan tangannya ke udara.
Aisha
mengintip dari balik ruang tengah. Bibirnya tertarik ke atas sehingga membentuk
sudut asimetris.
Meskipun
sedang kesal, wajahnya tetap imut bila sedang marah. "Itu kan… tetangga yg
suka menggunjing bunda. Mau ngapain dia menginjakkan kakinya disini? Ishhh.
Bikin aku sebel aja."
Aisha
mencuri dengar dengan seksama. Kedua tangannya terlipat di dada dan
berkali-kali ia menghentakkan kakinya ke lantai dan berkata: "Duh, pinjam
uang lagi. Gak tahu malu… dasar muka tembok.” entah didapat dari mana kata-kata
tersebut.
Ia
lalu mendengus kesal saat melihat bundanya berlari kecil ke arah kamar dan
kembali ke depan dengan sepucuk amplop di tangan. Setelah selesai memberikan amplop
itu, bundanya lantas kembali memandang putrinya yang masih berdiri mematung di
sudut ruangan tengah. Dengan tangan yang masih lelah sehabis mencuci pakaian, bunda
menggendong putrinya kecilnya tinggi-tinggi.
"Ayo...
tadi mau tanya apa?" tanyanya demikian.
"Emm.
Sebelumnya aku mau tanya. Kok bunda mau sih nolong orang yg udah..."
Bundanya
tersenyum dan menghela nafas berat kala menggendong matryoshka kecilnya. Udara
siang ini terasa sangat sejuk. Hanya awan mendung yang memayungi tanpa basuh
hujan. Sekawanan burung gereja hinggap di atap rumah, mematuk-matukkan paruhnya
ke atas genteng.
"Masih
ingat cerita tentang Rasulullah yang dihina, dicaci, diludahi, bahkan dilempari
kotoran oleh seseorang ketika Rasulullah melintasi jalan ke masjid? Bunda balik
bertanya mencoba membangun ingatan tentang cerita yang pernah ia ceritakan kepad
Aisha.
"Umm…
iya masih inget." Aisha mengangguk mantap.
"Bahkan
malaikat Jibril saja muntap atas penghinaan yang dilakukan orang tersebut."
lanjutnya.
"Apakah
nabi dendam pada orang itu?" Pertanyaan bunda dibalas dengan gelengan
kepala Aisha.
"Nah.
sekarang sudah paham kan kenapa bunda berlaku demikian terhadap tetangga kita
tadi?" lagi-lagi Aisha tak menjawab dengan kata. Hanya anggukan kepalanya
mengisyaratkan tanda ia mengerti.
"Bahwa
kita… tidak boleh menaruh dendam pada seseorang. Meskipun orang tersebut telah
berbuat jahat pada kita." ucapnya dgn suara cadel dan senyum yang memaksa.
Memamerkan gigi depan yang ompong dua bersisian. Isi kepalanya masih bingung
menerima hal yang sulit dicerna seorang anak berumur 7 tahun. Mengapa perlakuan
buruk seseorang harus dibalas dengan kebaikan. Tanpa pikir panjang seketika
pikirannya berkelebat pada sebuah rentetan kalimat dibuku cerita yg pernah ia
baca. Buku tersebut merupakan hadiah terakhir dari sosok Ayah yang tidak akan
pernah ia lihat lagi selama-lamanya. Ayah yang selalu mengimami Aisha ketika ia
baru mulai belajar sholat.
Kutipan
buku tersebut bersisi: Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan
menerima sebanyak-banyaknya.
Eh
tapi kutipan ini ada kaitannya tidak ya dengan apa yg dilakukan bunda tadi?
relung hatinya menimbulkan tanda tanya dalam. Lalu ia serap apa saja yg mampu
diterima olehnya. Kemudian ia menyimpulkan. Emm, mungkin kita harus menolong
orang semampunya, bahkan sebanyak-banyaknya. Tidak peduli sejahat apapun orang
tersebut. gumamnya dalam hati.
Aisha
masih melamun, tercenung mengolah dan menghubungkan kejadian tadi ke dalam
cerita nabi dan juga buku yang pernah ia baca.
"Lho...
kok bengong? Terus tadi mau tanya apa? lanjutnya kembali.
"Oh.
gak jadi bunda. Pertanyaan yang mau ditanyakan sudah terjawab." jawab
Aisha sambil menyunggingkan senyum.
Jawaban
Aisha disambut dengan kebingungan di raut wajah bunda. Akan tetapi hatinya
yakin bahwa putrinya sedang belajar sesuatu yang berharga. Mencerna sesuatu yg
mungkin sangat sulit diterima olehnya. Oleh seorang anak yang masih sering
menelusukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Kelak ia yakin, hal ini akan sangat
berguna di kehidupannya mendatang. Agar lebih
mengerti arti berbagi, memberi tanpa harus dipinta terlebih dahulu,
tidak menaruh dendam, dan belajar mengikhlaskan sesuatu.
Hari
berikutnya…
Senja
menjelang dalam rindang rimbunan pepohonan yang menyembul dibalik celah
dedaunan. Kicauan burung yang hinggap di atasnya menambah suasana asri di depan
bangunan rumah sederhana. Aisha sedang asyik bermain dengan sekawanan kupu-kupu
warna-warni di halaman rumahnya. Ia berlari-lari kecil mencoba menangkap salah
satu kupu-kupu yang berterbangan yang berwarna kuning keemasan. Namun
perhatiannya beralih pada kepompong yang bergantung di ranting pohon. Aisha
berfikir bahwa mahluk di dalamnya sedang beristirahat dengan tenang. Ia tidak
tahu bahwa di dalam kepompong tersebut terjadi proses perubahan antara ulat
menjadi kupu-kupu. Kepompong ini seperti rahim tempat bayi berkembang sempurna
dan akhirnya siap dilahirkan. Ketika sedang asyik memperhatikan kepompong
tersebut, Aisha dikejutkan oleh kedatangan Kiera yang sudah tiba di depan pintu
rumahnya. Beberapa lama kemudian…
Bunda
melihat Aisha sedang meminjamkan sepasang sepatu pada temannya. Bunda
menghampiri keduanya dan Aisha menoleh ke hadapan bunda.
"Bunda,
boleh ya sepatunya dipinjam untuk Kiera. Soalnya sepatunya dia basah karena
banjir..."
Kiera
yg berdiri di depan pintu dengan malu dan sedikit manja melenguh mencoba
merangkai kata.
"Maaf
ya Aisha, klo aku suka ga mau temenan atau main sama kamu… tapi ternyata kamu malah
baik sama aku. Kan aku udah..." nada suara Kiera terdengar melemah dan
menyesal.
Bunda
memotong kalimat Kiera sambil menyibak poni yang menggayut jatuh menutupi sebelah
mata Kiera.
"Oh…
iya gak apa-apa sayang. Sudah diterima aja ya sayang…" ujar bunda lembut
menyeka poni Kiera yang berjatuhan lalu turun mengelus pipinya yang chubby
menggemaskan.
Kiera
segera pamit setelah mendapat apa yang ia butuhkan. Bunda tersenyum bangga pada
putrinya. Jadi hal ini yang ingin ditanyakannya kemarin. Dan hal ini pula yang membuatnya
pulang sekolah dgn berwajah muram. Namun hari ini berubah menjadi sebuah
ketulusan nan lega yang terlukis dalam air muka Aisha yang mungil. Tak ada lagi
wajah yang terlipat seperti dompet tanggung bulan. Hari ini ia belajar sesuatu
yang sangat berharga. Tentang keikhlasan dan ketulusan yang mungkin orang
dewasa pun acap kali alpa akan hal ini. Mereka orang dewasa yang cendrung
menuruti ego yang terpendam. Membalas sebuah perlakuan buruk dengan sesuatu
yang jauh lebih setimpal lagi, lebih dari apa yang pernah dilakukan oleh orang
tersebut terhadapnya. Aisha layaknya kepompong kecil yang sedang tumbuh
berkembang dalam dekapan hangat bunda. Untuk dapat mengepakkan sayapnya dengan
bebas ia perlu belajar sesuatu. Sebelum mencapai atau menjadi seseorang yang mulia
di hadapan Allah, dirinya harus melalui serangkaian pemahaman kecil yang cukup
berat di usianya yang terbilang masih cukup kecil.
Aisha
kembali berlari-lari mengejar kupu-kupu menggemaskan yang sedang rehat di
hamparan sajadah rerumputan hijau. Tangan kecilnya terentang ke depan,
menggapai kupu-kupu yang tak kunjung ia dapat. Larinya makin kencang, begitu
semangatnya ia berlari sehingga tersandung sebuah batu.
“Bunda
aku jatuh…” Aisha langsung terisak. Hidungnya kembang kempis memerah.
“Kayak
ada yang panggil bunda, tapi kok orangnya gak ada…” bunda celingak-celinguk.
“Bundaaaaa…”
teriak Aisha makin kencang lagi dalam isaknya.
Life is about forgiving
Life is about sincerity
Life is about giving…
without hoping something in return
only pursuit of Allah’s pleasure (keridhoan Allah).
Sabtu, 02 Februari 2013
Too often we don’t realize what we have until it’s gone. Too often we are too stubborn to say, “I’m sorry, I was wrong.” Too often it seems we hurt the ones closest to us by letting insignificant issues tear us apart. Appreciate what you have, who loves you and who cares for you. You’ll never know how much they mean to you until the day they are no longer beside you!
Langganan:
Postingan (Atom)


